Terdengar percakapan telpon antara customer service (A) dengan customer (B ):

A : Hallo selamat siang.
B : Ya hallo…Apa betul ini kantor buku tulis Sinar Dunia Bu?
A : Iya Bu…Ada yang bisa saya bantu?
B : Anak saya dapat hadiah utama uang Rp. 100.000.000.
A : Lho kok bisa bu?
B : Anak saya kan juara kelas!
A : Hadiahnya saja belum diundi bu.
B : Tapi anak saya kan juara kelas!
A : Walaupun begitu belum tentu anak ibu pemenangnya
B : Belum tentu bagaimana?! Saya baca di koran bilangnya begitu!
A : Memang nama anak ibu ditulis sebagai pemenangya di situ?
B : Nggak sih. Tapi iklannya bilang “Hadiah Utama Uang Tunai 100 juta buat Sang Juara.”
A : …?!
B : …?


sholat1

tymask.wordpress.com

Di dalam blognya Glenn Marsalim menulis tentang Emosional (hati) VS Fungsional (akal pikiran) dalam beriklan. Aku setuju banget bahwa komunikasi iklan yang baik harus terjalin dari dua unsur tersebut. Komunikasi dengan hati yang jujur dan akal pikiran yang rasional membuat konsumen merasa dia dihargai dan dihormati. Dengan begitu diharapkan konsumen akan percaya dengan informasi yang kita sampaikan.

Hati dan pikiran adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hati dan pikiran baru berada di tataran teori. Hanya sebatas bicara saja, istilah kerennya NATO (no action talk only) dan Harmoko (hari-hari omong kosong). Dibutuhkan sebuah action yang konkret untuk membuktikan kesungguhan kita. Sampoerna Foundation, Sinarmas dengan Eka Tjipta Foundation-nya, Astra Foundationd dan perusahaan besar lainnya melakukan PR (Public Relation) dan CSR (Corporate Social Responsibity) sebagai sebuah bentuk tindakan yang sejalan dengan hati dan pikiran perusahaan.

Seperti halnya ketika kita melakukan sholat.

Ada 3 syarat utama supaya komunikasi kita didengar oleh Tuhan:
1. Berniat dengan hati bersih dan sungguh-sungguh.
2. Berucap lirih dan jelas (akal pikiran mengetahui makna yang diucapkan).
3. Dan melakukan gerakan yang sesuai dengan tujuan kita sholat.

Kenapa harus berniat dulu dalam hati? Kenapa tidak langsung saja takbir? Bukankah Tuhan Maha Mengetahui? Niat adalah untuk menetapkan satu obyektif yang jelas. Dengan niat diharapkan komunikasi yang kita lakukan fokus pada obyektif tsb.

Kenapa komunikasi dengan Tuhan harus diucapkan? Kenapa tidak cukup dalam batin saja? Bukankah Tuhan Maha Mendengar? Ucapan adalah bentuk konsistensi dengan hati. Konsistensi hati dan ucapan merupakan kontrol untuk tetap konsentrasi (fokus). Bagaimana komunikasi kita sampai kepada Tuhan kalo kita kurang konsentrasi?

Kenapa harus melakukan takbir? Rukuk? Sujud? Mengapa Tuhan minta disembah? Bukankah Dia Zat Maha Tinggi? Ternyata setiap gerakan sholat yang istikamah dan tumakninah bermanfaat bagi kesehatan. Dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu (takbir) akan membuka dada, memberikan aliran darah ke otak pengatur keseimbangan tubuh. Rukuk ternyata mampu merawat kelenturan tulang belakang. Sedang sujud yang lama dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak sehingga mengurangi resiko jantung koroner.

Demikian pula ketika perusahaan melakukan PR dan CSR tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan bisnis perusahaan.

Konsentrasi hati akan susah tercapai tanpa ada kekhusyukan fisik.

Ketiga hal tersebut harus dilakukan secara istikamah (konsisten) dan tumakninah (sungguh-sungguh). Istikamah artinya harus tertib sesuai urutan. Diawali dengan doa pembukaan, content dan doa penutup. Tumakninah artinya diam sejenak, tidak terburu-buru. Karena kalau terlalu cepat, seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi tidak sempurna, sehingga jalinan komunikasi dengan Tuhan menjadi kurang optimal.

Seperti halnya komunikasi iklan harus dilakukan dijalankan dengan tahapan yang benar (launch new product) dan konsisten ditayangkan di media yang sesuai. Komunikasi iklan harus dapat dipahami secara cepat oleh konsumen, tidak lebih dan tidak kurang. Pas seperti apa yang konsumen inginkan.


Siapa Aku?

30Nov08

Aku bukan orang luar biasa
Tidak punya apa-apa untuk dibanggakan…
Hanya punya keinginan luar biasa

Untuk membahagiakan anak dan istriku…


Mataku mengajak terpejam.
Punggungku mulai merebah.
Kulitku melembut melingkar pinggangnya.
Tanganku melemah mengusap perutnya.
Hangat nafasnya mengaliri tubuhku.

Kriiing! Dering telpon membuyarkan hasratku.
Segera kulepas mouse dalam genggaman.

“Ya Tuhan, sudah jam 2 pagi!”
“Ayah pulang ga?”

Sebuah sayatan tergores di dadaku.
Perih… “Kamu belum tidur, Sayang?”
“Udah.”
“Lima belas menit lagi, Sayang.”
“Ya udah. Aku tunggu ya.”Sayatan kedua mengenai rusukku.
Ngilu…

“Ayah, kamu baik-baik ya. Love you…”
 
Sayatan ketiga merobek jantungku.
Sesak…

“Love you too.”
 
*Selamat Pagi lagi, Sayang*


Dalam film At First Sight (true story) berkisah tentang Virgil (Val Kilmer) yang mengalami kebutaan sejak kecil. Dia mempunyai pendengaran yang lebih tajam daripada penglihatan orang normal. Baginya setiap tetes air hujan yang jatuh mengenai genangan air, dedaunan, tanah berlumpur, rumput, batu adalah merupakan sebuah nada yang sangat indah. Kepekaan rasa yang luar biasanya inilah yang membuat kekasihnya Amy (Mira Sorvina) dibuat mabuk kepayang.

Drama sesungguhnya diawali ketika Virgil untuk pertama kalinya akan bisa melihat kembali setelah menjalani operasi mata. Ternyata kegelapan total selama puluhan tahun membuat matanya begitu asing terhadap cahaya. Semua terlihat menjadi begitu menyilaukan dan menyakitkan.

Virgil kembali seperti bayi yang harus mengenali objek dengan matanya. Adaptasi dilakukan pelan-pelan dengan mengasosiasikan objek yang dilihat dengan diraba. Banyak obyek baru bagi Virgil seperti bayangan, cermin, air, tatapan mata, dan lain sebagainya. Pengalaman tersebut sangat mengejutkan dan sempat membuat Virgil stress, putus asa, dan bahkan disorientasi. Walapun akhirnya Virgil buta kembali, dia merasa kembali normal dan bisa melakukan kegiatan seperti dulu.

Apa yang dialami Virgil sama dengan yg menimpa adikku. Hanya kondisinya yang terbalik. Continue reading ‘Adikku pengen jadi tukang pijat’


Baru Sempat

08Mar08

….baru bisa memelukmu saat tubuhmu dingin dan kaku.
….baru mencium keningmu setelah kain kafan menjadi selimutmu.
….baru kutatap lekat gurat wajahmu yang semasa hidupmu tidak pernah aku lakukan.

Dan baru mau mengantarkanmu setelah jasadmu membutuhkan peristirahatan.


Pangkal leher kaku mengeras
Kucoba urut punggung leher
Yang ada hanya kenikmatan sesaat…

Di saat dada ini terasa ringan
Dia hanya sekali-kali datang waktu aku gak butuh
Mungkin dia tau gak ada gunanya…

Terasa tambah berat pagi ini
Asap terus mengepul dari mulutku
Tembakau semakin dalam terisap…

Saat dada terhimpit…dia hadir…
Dia datang dengan senyum lebar penuh kemenangan
Di saat aku limbung dia rajin menyambangiku…

Dia tahu bahwa aku memerlukannya
Aku sendiri tak tahu apa yang kubutuhkan
Otak ini sembunyi entah dimana
Yang ada hanya mati rasa…

Dia tahu aku butuh banget sama dia
Dia tahu aku tidak bisa berpisah dengannya
Dia tahu aku tidak bisa bilang tidak
Dia tahu aku lemah…

Kuharap kamu pergi untuk selamanya
Kuharap kamu tak akan pernah kembali…

Kuharapkan begitu….bukan begini…

(Untuk istriku tercinta atas kesabarannya)


Bapak Stroke

Masih teringat jelas wajahnya yang kuyu…capek banget.
Kusibak dan rapikan rambut yang menutupi dahinya.
Kuseka lembut keringatnya dengan kain sarung lusuh.
Bau keringat kemarin menyergap hidungku.

Setiap saat kucoba mengingat-ingat bau itu.
…Sekedar melepas rindu.
Continue reading ‘Memori pagi, teh, dan stroke’